welcome! :D

    Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

    Saat itu adalah saat dimana sedang adanya MBS (Masa Bimbingan Siswa) murid baru. Kegiatan tersebut berlangsung selama satu minggu. Dihari terakhir adalah saatnya pengenalan ekstrakulikuler kepada para murid baru tersebut atau yang sering disebut dengan demo ekskul. Ria, begitulah panggilan teman-temannya, sibuk mengurusi demo ekskul yang kebetulan Ria mengikuti ekskul olahraga dari sekolahnya. Tahap pertama saat demo ekskul adalah, pengenalan ke setiap kelas. Ria bersama dengan anggota ekskul POR (Persatuan Olahraga) mengelilingi tiap-tiap kelas dan memperkenalkan masing-masing dari cabang ekskul olahraga yang diikutinya. Disaat itu, Ria pergi bersama dengan Anto, kekasih Ria yang juga mengikuti ekskul olahraga. Karena Ria terlalu sibuk mengurusi kegiatan tersebut, Anto sangat bosan menunggu dan melihatnya. Namun sebelumnya pun hubungan mereka sedang renggang karena sering terjadinya kesalahpahaman di antara mereka berdua. Tapi mereka berdua menghadapinya dengan dewasa, mereka dapat melalui semua halangan yang menghadang pada hubungan mereka. Para anggota POR sudah mengelilingi beberapa kelas, kini waktunya mereka beristirahat. Salah satu anggota yang bernama Bayu, memiliki teman yang bernama Tri. Bayu dan Tri sudah bersahabat sejak kecil. Selain karena satu sekolah, mereka juga bertetangga. Karena Bayu harus mengikuti kegiatan demo ekskul, maka Tri pun selalu mengikuti Bayu. Disini lah Tri bertemu dengan Ria. Diam-diam Tri selalu memandang Ria dengan penuh kagum, Ria pun diam-diam juga suka memandang Tri dan Ria penasaran siapakah lelaki tersebut. Setelah waktu istirahat selesai, kemudian tahap kedua dalam demo ekskul dimulai. Yaitu menampilkan ekskul di tengah lapangan dan ditonton oleh seluruh murid baru yang sedang MBS. Waktunya ekskul POR tampil. Yang pertama kali tampil adalah ekskul bela diri seperti, karate, taekwondo, dan pencak silat. Kemudian dilanjutkan oleh ekskul bola seperti, basket dan futsal. Ria dengan sahabat-sahabatnya mengikuti ekskul futsal putri. Ya, mungkin banyak yang heran mengapa seorang wanita mengikuti ekskul tersebut. Tidak jarang jika setiap orang menanyakan kepada mereka mengikuti ekskul apa, setelah mereka menjawabnya si penanya pun memasang wajah yang keheranan. Namun apa salahnya bukan? Karena wanita juga bisa menjalani olahraga tersebut. Kegiatan demo ekskul pun berakhir, dan kemudian Ria pulang bersama dengan Anto. Sesampainya di rumah, Ria langsung beranjak istirahat.
    Pada sore hari, Ria pun terbangun. Ria mendapati sebuah SMS dari Bayu, “Hei, Ri! Lagi apa? Ganggu gak?” sebenarnya Ria agak heran mengapa tiba-tiba Bayu SMS seperti itu. Tapi Ria sama sekali tidak berpikiran yang negatif. Ria pun membalas SMS Bayu. Setelah Ria dan Bayu berbincang-bincang, kemudian masuk sebuah SMS dengan nomor yang lain. “Ri, maaf ya pulsa gue abis. Ini gue SMS pake nomor temen gue. Kebetulan temen gue mau kenalan nih sama lo. Lo SMSan aja ya sama doi.” ternyata itu Bayu. “Hei, Ri! Gue Tri temennya Bayu yang tadi. Salam kenal yah.” “Eh iya, salam kenal juga ya.” jawab Ria. Kemudian Ria dan Tri pun berbincang-bincang hingga larut malam. Ria sempat tidak ingat jika ia memiliki seorang kekasih, yaitu Anto. Keesokan harinya, Ria dan Tri melanjutkan perbincangan mereka kemarin malam. Mereka berdua merasa nyaman satu sama lain karena mereka mempunyai sifat yang hampir sama. Saat sekolah, seperti biasa Ria berangkat dengan Anto dengan motor. Kini hubungan mereka semakin renggang ditambah dengan kehadiran Tri yang membuat Ria semakin berpaling dari Anto. Anto terlalu mengekang Ria, dan sering cemburu kepada Ria. Itulah salah satu hal yang paling dibenci oleh Ria. Anto selalu cemburu karena Ria memiliki banyak teman lelaki. Ria memang orang yang sangat easy going, sehingga Ria memiliki banyak teman baik wanita maupun lelaki. Namun itu sudah menjadi hal yang biasa untuk Ria. Sesampainya di sekolah, Ria dan Anto berjalan seperti bermusuhan. Kemudian mereka bermain dan bergabung dengan teman sekelasnya masing-masing. Sepulang sekolah, Ria pulang dengan Anto. Ria dan Anto berjalan bersama. Dan di hadapan mereka ada Tri yang memandang dari kejauhan. Ria menyadari itu, dan tiba-tiba Ria menjadi merasa tidak enak dan menyuruh Anto untuk cepat-cepat pulang. Sesampainya di rumah, Ria jadi kepikiran dengan Tri yang sudah melihat kejadian tadi. Ria sangat merasa bersalah. Ria pun bingung, kenapa ia menjadi memikirkan Tri. Ria membuka twitter, yaitu salah satu jejaring sosial masa kini. Ria melihat jika Tri berkata “GALAU!” semakin saja Ria menjadi tidak tenang. Akhirnya Ria SMS Bayu, “Bay, temen lo kenapa? Galau ya?” tanya Ria. “Galau kenapa emangnya? Ah, dia mah selalu happy-happy aja tuh.” jawab Bayu. Ria pun akhirnya menceritakan dan menjelaskan kepada Bayu apa yang terjadi sebelumnya. Selain Ria mengurusi masalah Tri, Ria tidak sadar bahwa ia masih memiliki masalah dengan Anto, kekasihnya sendiri. Ria dan Anto sedang bertengkar hebat hingga Ria tidak tahu harus apa. Keesokan harinya, Ria kaget bahwa di HPnya muncul sebuah SMS dari Tri. Ria mengira Tri marah dan ingin menjauhi Ria, tapi ternyata tidak. Ria menjelaskan semuanya kepada Tri, dengan berlega hati Tri mau menerima semua penjelasan dari Ria. Kini Ria menganggap Tri sebagai teman curhatnya, karena sering kali Ria selalu curhat tentang hubungannya dengan Anto. Tri selalu setia menemani dan mendengar semua keluhan Ria, Ria pun sangat senang akhirnya Ria merasa dihargai lagi oleh seseorang. Setelah sekian lama Ria dan Anto bertengkar, hubungan mereka yang sedang berjalan menuju tiga bulan itu pun akhirnya kandas karena kedua belah pihak sudah sama-sama tidak sanggup menjalaninya. Orang yang pertama kali tahu adalah Tri. Ria bercerita dan tentu saja Tri mencoba membantu untuk menenangkan Ria.
    Waktu terus berjalan, hingga tibalah bulan Ramadhan. Sekolah sempat libur selama kurang lebih satu minggu. Semakin waktu terus berjalan, hubungan Ria dengan Tri pun semakin ikut berjalan seperti air yang mengalir. Mereka kini semakin dekat. Masuk sekolah dengan keadaan sedang berpuasa, cukup banyak godaannya tapi tetap dijalani ikhlas oleh Ria. Bel pulang berdering, kemudian para murid keluar dari kelasnya masing-masing dan pulang. Kini Ria sudah tidak pernah lagi pulang bersama Anto, kini Ria pulang bersama sahabat-sahabatnya. Kali ini Ria pulang bersama Izza dan Fayat. Saat ingin turun dari angkot, Ria mencari dompetnya dan dompetnya ternyata tidak ada. Untunglah Ria mempunyai uang pegangan di sakunya saat itu. Akan tetapi, Ria ingin kembali ke sekolah, karena Ria memiliki insting dan pemikiran bahwa dompetnya telah jatuh di depan kelasnya saat Ria akan mengeluarkan jaketnya. Ria bertanya kepada teman-temannya yang masih di sekolah, dan memang benar dompet itu masih ada dan tergeletak di depan kelasnya. Untuk itu, Ria pun kembali ke sekolah untuk mengambil dompetnya. Ada sebuah SMS yang masuk dari HP Ria, yaitu SMS dari Tri. Kemudian Ria bercerita soal dompetnya yang jatuh dan sempat hilang. Tri sempat kaget dan kemudian ia ikut kembali ke sekolah untuk menjemput Ria. Padahal Tri sedang berada di rumah temannya yaitu Widi yang sebenarnya jarak dari rumahnya sangat jauh ke sekolah. Namun Tri tetap rela berkorban untuk Ria. Ria menemui Tri, mereka sempat berbincang-bincang sebentar soal peristiwa tadi kemudian mereka pulang. Tri pun mengantar Ria pulang ke rumahnya. Saat sudah sampai di rumah, Ayah Ria melihat dari jendela dan tersenyum. Ria masuk ke dalam rumah, dan di sofa sang Ayah tersenyum, “Hayo, tadi siapa?” dengan nada meledek. “Temen Ria lah, Yah. Siapa lagi.” jawab Ria. Ria langsung masuk ke kamarnya. Sebelum liburan lebaran, sekolah Ria pasti akan selalu mengadakan buka bersama dengan semua angkatan dan para guru saat bulan puasa. Kemudian Ria memberi tahu kepada sang Ayah tentang acara itu. “Jadi nanti Ria bakal buka di luar rumah ya, Yah. Nanti Ria dijemput sama temen Ria kok.” “Oh ya sudah kalau begitu. Kamu dijemput sama siapa, Ri? Yang kemarin itu ya?” “Hehehehe, iya Ayah.” Ria terkesan malu-malu. Tri pun menjemput Ria di rumahnya. Kemudian mereka berangkat menuju ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, semua orang melihat Ria dan Tri berjalan bersama termasuk Anto. Terlihat dari wajah Anto, Anto begitu kesal bercampur heran. Ria pun sibuk mengurusi buka bersama dengan teman sekelasnya, begitu juga dengan Tri. Adzan pun berkumandang, akhirnya semua orang yang sedang berada di sekolah berbuka bersama. Setelah acara selesai, murid-murid pun pulang. Seperti biasa, sebelum pulang, Ria dengan sahabat-sahabatnya yaitu, Izza, Fayat, Lina, Ani, Melani dengan Yanti berkumpul terlebih dahulu. Dengan setianya, Tri pun menunggu dan ikut bergabung dengan mereka. Ria dengan enam sahabatnya ini sangat akrab dan dekat. Mereka sudah berteman dari masuk sekolah hingga sekarang. Mereka sudah mengenal satu sama lain. Ria merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka, yang menerima Ria apa adanya, dan selalu ada untuk Ria disaat suka maupun duka. Karena sudah semakin malam, Ria dengan sahabat-sahabatnya pulang begitu juga dengan Tri. Para sahabatnya meledeki Ria yang kini semakin dekat dengan Tri. Tidak terasa, Ria dan Tri sudah sangat dekat begitu lama dan sepertinya mereka ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Seperti biasa, Tri mengantarkan Ria pulang. Ria berterima kasih karena selama ini Tri sudah banyak berkorban untuknya. Ria pun memasuki rumah dan menemui kedua orang tuanya. Tidak lama kemudian, muncul sebuah SMS dari Tri, “Kamu mau keluar dulu gak sebentar? Aku mau ngomong sama kamu.” saat membaca SMS itu, hati Ria pun langsung berdetak lebih kencang. Kemudian Ria menemui Tri di luar rumah. “Sebenernya, aku udah menyukai kamu dari lama, sejak pertama ketemu sampe kenal seperti sekarang. Kamu mau jadi pacar aku, Ri?” gumam Tri. Ria pun diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Ria ingin menjawab namun Ria sangat malu. “Iya, aku mau kok, Tri.” kata-kata itu keluar dari mulut Ria. Dan tampak dari kedua wajah mereka begitu bahagia dan memerah. Setelah berbincang-bincang, Tri pun pulang. Ria sangat senang, ternyata Tri memiliki perasaan yang sama dengannya.
    Kini Ria dan Tri menjalani sebuah hubungan yang baru. Mereka selalu bersama saat suka maupun duka. Ria dan Tri sama-sama menduduki di bangku kelas XI, sehingga mereka diberikan tugas oleh guru Multimedia mereka, Pak Iwan untuk membuat film pendek. Ria berkelompok dengan para sahabatnya yaitu Izza, Fayat, Lina, Ani, Melani dan Yanti, akan tetapi salah satu temannya, Herlambang juga ikut menjadi bagian dari kelompok mereka. Mereka membuat film yang bertemakan pembunuhan dengan Ria pemeran utamanya. Pada malam minggu, mereka mulai syuting, dengan setianya Tri menemani dan membantu Ria syuting. “Kamu benar-benar ingin menemani aku, Tri? Apa gak ngerepotin?” tanya Ria. “Gak kok, Ri. Kapan lagi ya kan bisa nemenin sekalian malem mingguan sama kamu.” ungkap Tri. Ria memang jarang diperbolehkan keluar malam oleh sang Ayah. Karena kebetulan Ria adalah anak perempuan satu-satunya dan sangat disayang oleh sang Ayah. Mereka memulai syuting hingga malam di sebuah tempat yang cukup ramai. Setelah selesai mereka pun pulang. Hubungan Ria dan Tri sudah berjalan menuju 3 bulan. Ria tidak menyangka bahwa akan selanggeng ini. Karena menurut pandangan orang di sekitar Ria, Ria ada tipikal orang yang mudah bosan sehingga hubungannya selalu cepat kandas. Memasuki akhir Oktober, Ria sedang berusaha untuk menabung untuk membelikan sebuah hadiah kepada Tri yang pada awal November akan berulang tahun. Ria rela menabungkan uangnya sejak lebaran hingga sekarang hanya karena ingin membelikan hadiah yang terbaik untuk Tri. Kemudian Ria pergi sendiri menuju mall yang cukup terkenal di daerah Tangerang. Ria sempat bingung harus membelikan apa untuk Tri, kemudian Ria memasuki sebuah toko dengan merk ternama dan melihat-lihat disana. “Sedang mencari apa, Mbak?” tanya pegawai toko itu. “Ini, Mas, saya lagi nyari jaket. Tapi saya bingung, yang bagus yang mana.” “Oh, bagaimana dengan yang ini, Mbak. Jaket ini keluaran terbaru, loh, baru launching beberapa hari yang lalu.” “Boleh saya liat gak, Mas?” “Boleh kok, Mbak. Ini.” setelah mereka berbincang serta Ria melihat bagaimana tampak jaket itu, akhirnya Ria memutuskan untuk membeli jaket itu. “Baiklah, Mas. Saya ambil jaket ini ya dengan ukuran yang ini.” ujar Ria. “Ok, Mbak. Pilihan yang bagus. Pasti jaket ini buat pacarnya ya?” tanya pegawai toko itu sambil membungkuskan jaketnya. “Hehehe, iya, Mas. Kurang lebih kayak gitu.” jawab Ria dengan malu-malu. “Wah, pasti cinta banget ya, Mbak, sama pacarnya. Semoga pacarnya suka ya, Mbak. Tapi pasti suka banget kok soalnya bagus banget jaketnya.” “Iya, Mas, semoga. Makasih ya, Mas.” Kemudian Ria pulang dan membungkus serta menghias jaket tersebut hingga bagus dan rapih. Memasuki tanggal 4 November, saat tengah malam Ria masih terbangun kemudian mengucapkan memberi ucapan kepada Tri. Sebelumnya, Ria meminta tolong kepada Ani untuk membelikan kue yang akan diberikannya untuk Tri nanti. Dan Ria juga meminta tolong kepada Stefanus, teman sekelas Tri untuk mengerjai Tri. Ria juga meminta tolong kepada Bayu, untuk membantunya memberi kejutan kepada Tri di rumahnya nanti. “Bay, gue minta tolong dong untuk bantuin gue kasih kejutan ke Tri.” ujar Ria dan menjelaskan semua rencananya kepada Bayu. “Oh ya udah kalau gitu, tapi gue harus futsal dulu. Sekitar jam 3 selesai kok terus baru langsung kasih kejutan ke Tri. Gimana?” jawab Bayu. “Yah agak lama sih, tapi ya udah gak apa-apa deh. Thanks ya, Bay.” Menurut Ria itu terlalu lama, sehingga Ria meminta tolong lagi kepada Stefanus untuk membantunya memberikan kejutan kepada Tri, dan Stefanus pun dengan senang hati ingin membantu Ria. Karena pada saat itu adalah hari Jumat, sehingga Tri beserta teman-temannya harus shalat Jumat terlebih dahulu, dan Ria diam-diam datang ke tempat tongkrongan Tri tanpa sepengetahuan Tri. Tempat tongkrongan itu juga lumayan dekat dengan rumah Izza, jadi dengan mudah Ria datang kesana. Ria menyiapkan semuanya dengan bantuan Stefanus dan teman-temannya yang lain. Setelah shalat Jumat selesai, kemudian Tri kembali ke tempat tongkrongannya itu, dan Ria pun memberi kejutan kepada Tri. Tri sempat kaget, dan terlihat dari wajahnya bahwa dia sangat senang. Saat ingin meniupkan lilin, salah satu teman Tri yaitu Darma menyeletuk, “Make a wish dulu dong, Tri! Gimana sih.” ‘Oh iya! Sorry lupa. Hahaha” jawab Tri. “Doa gue nih ya, semoga gue bisa semakin menjadi baik dan langgeng dengan Ria!” “AMIIINNNNN.” semua teman-teman Tri menjawab. Setelah meniupkan lilin, dilanjutkan dengan memotong kue. Teman-teman Tri telah siap menyiapkan beberapa telur, tepung terigu, air, dan sebuah tali rafia untuk menjebak Tri dan menyiraminya. Semua tampak menyenangkan. Ria pun memberikan hadiah kepada Tri, “Dibukanya nanti aja ya pas di rumah.” ujar Ria. Tri sangat berterima kasih kepada Ria, karena menurutnya ini merupakan momen ulang tahun terbaik yang pernah ada. Saat di rumah, Tri memberi tahu Ria, “Makasih banget ya atas kadonya. Aku suka banget, maaf aku udah ngerepotin.” ujar Tri. Ria begitu senang karena Tri menyukainya. Seminggu telah berlalu, Kolunda yaitu teman lama Ria tiba-tiba menghubungi Ria. Ria sudah menganggap Kolunda sebagai kakaknya sendiri, tapi karena banyak halangan membuat mereka kemudian terpisah dan tidak pernah berhubungan lagi. Kolunda dan Ria menikmati perbincangan mereka karena mereka sangat merindukan satu sama lain. Bagaimana tidak, seluruh keluarga Kolunda sudah mengenali Ria dan begitupun sebaliknya. Pada hari Minggu tepatnya, Ria dan Tri sedang jalan berdua menuju salah satu mall terkenal di kota itu. Mereka makan, menonton film, dan berjalan-jalan berdua. Tak lama, Tri meminjam HP Ria dan melihat isi-isi di dalamnya. Tidak sengaja, Tri membaca semua Inbox di HP Ria dan membaca semua SMS dari Kolunda. Tri menjadi cemburu dan marah keppada Ria akan tetapi ia tidak memberitahukan Ria pada saat itu. Saat sudah di rumah, barulah Tri mengatakan semuanya kepada Ria. Ria sangat merasa bersalah, Ria pun menjelaska semuanya kepada Tri akan tetapi Tri tetap marah kepadanya. Keesokannya di sekolah, teman sekelas Tri yaitu Rifqi dan Stefanus meledeki Ria. “Wah parah lo, Ri! Lo apain temen gue sampe galau begitu?” ujar Stefanus. “Tau nih! Temen gue lo selingkuhin ya? Wah parah, gak nyangka!” ujar Rifqi. Ria sempat kaget, ternyata Tri menceritakan semuanya kepada Stefanus dan Rifqi. Saat pulang sekolah, Ria menunggu Tri dan menjelaskan semuanya. Ria meminta maaf hingga ia menangis di depan mata Tri. Kemudian Tri menjadi tidak tega melihat Ria, Tri pun memaafkan kesalahan Ria. Tri pun menemani Ria kembali yang pada saat itu Ria harus syuting untuk tugas sekolahnya. Memasuki akhir November, Tri pun menjadi sibuk karena harus deadline mengerjakan tugas film bersama dengan teman-temannya. Tri selalu pulang malam, dan Ria menjadi khawatir kepadanya. Karena Ria tahu bahwa Tri memiliki daya tahan tubuh yang cepat sakit. Ria selalu marah kepada Tri, hubungan mereka menjadi renggang. Di awal Desember, merupakan masa-masa yang kelam menurut Ria. Selain Tri yang kini menjadi sibuk, sang Ayah pun jatuh sakit. Ria selalu ingin membutuhkan Tri untuk menenangkan hatinya karena menghadapi Ayahnya yang jatuh sakit parah. Perlahan-lahan Ria masih mengerti Tri harus sibuk, tapi tak lama kemudian Ria sudah tidak bisa sabar lagi. Egois memang, tapi itulah yang dirasakan oleh Ria. Ria masih merasa beruntung karena sahabat-sahabatnya selalu menghiburnya, bahkan termasuk Kolunda. Pada Ujian Akhir Semester (UAS) Ganjil, sang Ayah masuk rumah sakit dan itu membuat Ria menjadi semakin merasa down. Untunglah saat itu Tri mengerti, sehingga Tri selalu menemani Ria.
    Saat liburan UAS, Ria harus merelakan waktu liburannya untuk merawat sang Ayah yang kini semakin parah penyakitnya. Sang Ayah dirujuk ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Selama itu pun Ria harus bersabar dalam merawat sang Ayah dan juga bersabar karena akan jarang bertemu dengan Tri. Kurang lebih selama satu minggu sang Ayah dirawat disana. Sang Ayah menderita penyakit kanker yang padahal sebelumnya hanya menderita Hepatitis. Karena sang Ayah hanya membiarkan penyakit itu menggerogoti tubuhnya demi pekerjaannya maka penyakit itu berkembang menjadi kanker. Sang Ayah tak pernah memberitahu siapa-siapa, kecuali sang Istri yaitu Ibunya Ria. Ia tak pernah memberitahukan kepada anak-anaknya karena memang beliau tidak ingin anak-anaknya mengkhawatirkannya dan membuat anak-anaknya menjadi sedih karena penyakit yang dideritanya. Pada siang hari, Ria terbiasa menemani sang Ayah sendiri karena Ibu nya beserta Kakaknya harus pergi bekerja dan kuliah. Satu ketika, Dokter yang menangani Ayah Ria datang, dan ingin berbicara dengan salah satu keluarga kandungnya. Kemudian Ria pun datang menemui sang Dokter. “Ada apa, Dok? Saya Ria, anaknya.” ujar Ria. “Berapa umur kamu, Ri?” tanya sang Dokter. “Saya masih 16 tahun, Dok.” Sang Dokter sempat memasang wajah yang cukup sedih. Jantung Ria merasa deg-degan, Ria berpikir sang Dokter akan mengatakan sesuatu yang benar-benar penting seperti yang ada di sinetron yang ia sering tonton sebelumnya. Namun sang Dokter hanya berkata, “Oh baiklah jika begitu. Saya hanya ingin memberi tahu, bahwa Ayah kamu hanya mengidap penyakit di hati dan paru-parunya. Saat Ayah kamu batuk dan mengeluarkan darah, darah itu berasal dari paru-parunya jadi kamu harus rajin-rajin memperhatikan dan memberikannya obat ya. Ingatkan beliau untuk makan.” “Iya, Dok. Saya akan selalu melakukannya.” ujar Ria. Sang Ibu dan sang Kakak pun pulang, kemudian menuju ke rumah sakit. Tak lama, Ria menceritakan bahwa sang Dokter ingin menemui mereka, sehingga mereka langsung menuju ruang Dokter. Ria hanya diam di kamar sang Ayah dirawat. Selesai menemui Dokter, terlihat dari wajah sang Ibu begitu sedih namun karena tak ingin Ria menjadi berpikiran yang aneh, sang Ibu pun kembali memasang senyuman di wajahnya. Penyakit sang Ayah semakin parah. Sang Ayah menjadi tidak bisa makan. Setiap harus makan, beliau pasti akan memuntahkannya. Jika tidak makan, maka sang Ayah tidak bisa meminum obat dan akan mengakibatkan penyakit sang Ayah bertambah parah. Dokter menyarankan, agar sang Ayah memakai selang ke dalam tubuhnya untuk disalurkan makanan dari luar. Agar perut sang Ayah terisi, dan dapat menerima obat. Cukup miris melihatnya, Ria sangat sedih dan bercerita kepada Tri. Tri pun ikut sedih karena ia tidak ada disana untuk sekedar menenangkan Ria. Waktunya pembagian rapot. Seperti biasa, Ria meminta tolong kepada Fayat untuk mengambilkan rapotnya dengan diwakilkan oleh Ibunya. Ria sudah terbiasa seperti itu, karena tak ada yang bisa mengambilkan. Sang Ibu sibuk bekerja, sang Kakak harus kuliah, dan sang Ayah sudah jatuh sakit sehingga tidak sanggup untuk pergi kemana-mana selain hanya di rumah. Fayat bercerita bahwa nilai rapot Ria cukup baik. Ya, setidaknya itu membuat Ria agak tenang. Sang Ayah kini mengeluh ingin pulang dari rumah sakit. Kata-katanya sudah mulai ngelantur, dan juga mudah marah. Ria cukup letih untuk menghadapinya. Ria menceritakan kepadanya Ibunya, dan akhirnya sang Ibu memutuskan untuk mempulangkan sang Ayah. Selagi sang Ibu sibuk mengurusi biaya administrasi rumah sakit, Ria membereskan semua pakaian dan barang-barang sang Ayah. Setelah selesai, mereka pun pulang menuju rumah. Saat di rumah, sang Ayah malah semakin parah akan tetapi sang Ayah bersikeras untuk tidak kembali ke rumah sakit karena beliau sangat tidak betah disana. Sang Ibu pun mencoba untuk mengerti. Namun sang Ibu mencoba untuk berbicara baik-baik dan menjelaskan kepada suaminya, sehingga suaminya pun mengerti. Akan tetapi, sang Ayah meminta untuk tetap tidur di kamarnya selama satu malam barulah boleh dibawa ke rumah sakit lagi. Sang Ibu, sang Kakak, dan Ria mengiyakan permintaan itu. Saat subuh, sang Ibu sempat kaget karena sang Ayah memintanya untuk menolong dan menemaninya mengambil air wudhu. Sang Ayah kekeh ingin shalat saat itu setelah sekian lama beliau tidak sanggup untuk melakukan aktivitas apapun. Sang Ayah menyuruh istrinya untuk tetap bekerja, dan membiarkan anak-anaknya yang merawatnya di rumah karena kebetulan Ria masih libur dan sang Kakak juga kuliahnya sedang libur. Sempat sang Ibu menolak, akan tetapi sang Ayah tetap keras kepala menyuruh sang istri untuk tetap bekerja. Ria pun bertugas untuk merawat sang Ayah saat siang hari. Ria membawakan makanan dan menyuapi sang Ayah. Hingga yang membuat Ria kaget, sang Ayah jatuh meskipun sang Ayah sedang duduk. Ria berteriak memanggil Kakaknya untuk membantunya menolong sang Ayah. Kemudian sang Kakak menggotong sang Ayah ke kamar dan membiarkan beliau istirahat dan tidur. Sang Kakak meminta izin untuk pergi ke apotek untuk membelikan tabung oksigen agar membantu sang Ayah bernafas lebih baik. Tapi tidak diperbolehkan sang Ayah, sang Ayah benar-benar tidak ingin anaknya pergi kemana-mana selain menemaninya disitu. Sang Kakak bersikeras, karena ia pun tidak tega melihat Ayahnya begitu sakit saat bernafas, akan tetapi sang Kakak menuruti permintaan sang Ayah. Kemudian sang Ayah tertidur, istirahat dengan pulas. Waktu menjelang adzan ashar, sang Kakak kemudian turun dari kamarnya, melihat Ria beserta sang Ayah tertidur pulas beristirahat. Sang Kakak sempat curiga karena sang Ayah dapat dengan tenang tertidur. Karena ia tahu, semenjak sakit sang Ayah tidak pernah tenang dalam beristirahat. Sang Ayah menahan sakit, itu yang membuatnya selalu terbangun. Kemudian sang Kakak membangunkan Ria, dan menyuruh Ria untuk menuju sang Ayah dan mencoba membangunkannya. Sang Kakak pergi keluar menuju rumah tetangga yang kebetulan adalah salah satu perawat di rumah sakit daerah situ. Saat Ria pergi menuju sang Ayah, Ria memegang dan memeluk sang Ayah. Wajah sang Ayah sudah begitu pucat, dan seluruh tubuhnya dingin. Ria berteriak mencoba untuk membangunkan sang Ayah, “Ayah bangun! Ayah bangun!” Ria pun kemudian menangis, karena sang Ayah tidak meresponnya sama sekali. Sang Kakak bersama perawat itu datang menuju sang Ayah. Sang Kakak diminta untuk memberikan nafas buatan kepada beliau, namun tetap tidak berhasil. Semua orang yang mendengar teriakan Ria dengan Kakaknya datang dan mencoba membantu. Tapi tetap, sang Ayah tidak terbangun. Sang Ayah pun dinyatakan meninggal dunia. Terlihat senyuman yang tampak pada wajah sang Ayah saat itu. Tiba-tiba Ria memberitahukan kepada Tri dan tidak tahu mengapa ia juga memberi tahu Kolunda. Tri sangat kaget, Tri mencoba menelepon Ria dan sama sekali tidak ada jawaban. Tri pun SMS kepada Fayat, “Fay, Ria bilang Ayahnya meninggal. Gue coba buat telepon dia tapi gak diangkat. Please bantuin gue coba buat hubungin dia dan tanyain dia.” “HAAAAHHH???!!! SERIUS LO, TRI????!!!” Fayat begitu kaget, dan mencoba untuk menghubungi Ria. Tri pun bergegas menuju rumah Ria. Kemudian Fayat pun memberitahukan sahabat-sahabatnya yaitu, Izza, Ani, Lina, Melani dan Yanti. Mereka semua kaget dan mereka semua juga cepat-cepat bergegas menuju rumah Ria. Sebelumnya, Tri berangkat bersama dengan Anjar yaitu teman Tri. Kemudian mereka berdua menjemput Fayat dan pergi menuju rumah Ria. Dan benar, sudah terpasang tenda biru di depan rumah Ria. Berita itu pun menyebar, kemudian teman-teman SMP dan SMA Ria datang ke rumahnya. Sang Ibu yang masih bekerja, ditelepon oleh Ria. Ria memberitahu sang Ibu bahwa suaminya telah meninggal. Sang Ibu berteriak histeris kemudian bergegas pulang. Sesampainya di rumah, sang Ibu langsung menuju sang suami yang sudah tidak bernyawa tersebut. Sang Ibu menangis dan memeluk Ria kemudian meminta maaf kepada Ria, “Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu gak pernah bilang kalau Ayah mengidap penyakit yang sangat parah.” Ria hanya menangis dan sempat mengamuk. Hari semakin malam, semua teman-teman Ria, sang Kakak dan sang Ibu datang untuk melayat. Ria diceritakan oleh sang Kakak, bahwa sesungguhnya saat itu sang Dokter mengatakan bahwa umur sang Ayah tak lama lagi. Hanya bertahan beberapa bulan. Namun takdir berkata lain, sang Ayah sudah terlebih dahulu pergi. Disana, Tri sangat setia menemani Ria hingga larut malam. Namun Ria menyuruh Tri pulang dan beristirahat. Tri pun mengiyakan, akan tetapi saat Tri sudah di rumah Tri tetap menemani Ria hingga tidur dengan ber-SMSan. Ria meminta agar Tri dapat ikut pergi saat mengebumikan sang Ayah. Pada pagi harinya, sang Ayah pun dimandikan, dikafani dan dishalatkan. Masih banyak teman sekolah Ria yang datang. Ria sangat merasa beruntung karena memiliki teman-teman yang care kepadanya. Ria menunggu Tri, tetapi Tri tidak datang juga. Ria mengerti Tri pasti sedang beristirahat untuk itu dia tidak dapat datang dan ikut. Dimulai lah pengajian untuk sang Ayah, sudah pasti Tri selalu datang beserta teman-temannya dan sahabat-sahabat Ria. Mereka selalu menghibur Ria. Tak lama kemudian adalah malam tahun baru. Seperti biasa, Tri pergi bersama dengan teman-temannya.
    Waktu sekolah pun tiba. Teman sekelas Ria, yaitu, Fayat, Eli, Rahma, Sisca dan Febrina selalu menghibur Ria. Hal yang tidak diinginkan Ria pun muncul, yaitu kini hubungan Ria dan Tri menjadi renggang. Sudah mulai banyak pertengkaran yang terjadi. Tri semakin menjadi sibuk dan tidak pernah ada waktu untuk Ria. Ria mengakui ia sangat membutuhkan Tri untuk menemaninya. Namun tetap, Tri tidak bisa. Saat bertengkar hebat, Tri sempat mengatakan kata “putus” akan tetapi Ria menolaknya. Ria tetap mempertahankan hubungan mereka. Ria menjadi kekanak-kanakan. Ria cepat marah, ngambek, dan bête. Kemudian juga Ria menjadi cepat sedih dan menangis, itulah yang tidak disukai oleh Tri. Tri sudah mulai muak dengan semua itu. Sampai pada akhirnya, Ria tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sesungguhnya, sahabat-sahabat Ria menyarankan agar mengakhiri saja hubungannya dengan Tri. Karena itu hanya akan menambah beban Ria. Tetapi Ria tidak mau. Para sahabatnya hanya bisa menyarankan, semua keputusan berada di tangan Ria. Begitupun sebaliknya, teman-teman Tri menyuruh dan menyarankan Tri untuk mengakhiri hubungannya. Karena mereka malah tidak tega dengan Ria, karena mereka tahu bagaimana sifat Tri. Tri sempat dimarahi dan dimaki-maki oleh salah satu temannya yaitu, Tyo. Tyo merupakan salah satu sahabat Ria yang berteman dengan Tri. Tyo tidak tega dan tidak ingin sahabatnya disakiti. Saat itu Tri pun menangis, ia juga tidak tega dengan Ria yang terus-terusan bersedih karenanya. Akhirnya Tri berusaha untuk gentle dan tegas untuk mengakhiri hubungannya dengan Ria. Ria sempat bersikeras tidak ingin mengakhirinya, kemudian Tri pun menjelaskan semuanya agar Ria mengerti. Saat itupun juga Ria sedang bercerita kepada Kolunda. Kolunda juga mencoba untuk menjelaskan kepada Ria jika mungkin itu adalah keputusan yang terbaik. Akhirnya Ria mengerti dan mengiyakan semuanya. Hubungan Ria dan Tri yang sudah berlangsung selama 5 bulan itu pun akhirnya berakhir. Ria menangis. Disaat itu sedang ada pertandingan sepak bola, sehingga terdapat nobar (nonton bareng) di suatu tempat makan dimana Tri sedang bermain bersama teman-temannya. Ria bercerita kepada sahabat-sahabatnya. Sehingga Fayat, Ani dan Melani pun menuju rumah Ria dan menemani Ria. Karena Ria sudah menangis dari kemarin malam, membuat matanya menjadi sembab dan bengkak. Saat sahabatnya datang, Melani yang pertama kali melihat Ria langsung meledekinya, “Astaga, Ria! Mata lo! Bengkaknya udah kayak SBY tau gak!” “Yeee lo mah parah banget! Temennya lagi sedih bukannya dihibur malah diledekin!” “Hahahaha, iya-iya sorry deh.” karena Melani selalu meledeki matanya Ria yang sangat bengkak itu, Fayat dan Ani pun ikutan meledekinya. Kemudian Ria menjadi tertawa kembali. Saat di sekolah, semua orang yang tahu bahwa hubungan Ria dan Tri berakhir sempat kaget dan selalu menanyakan, “Kalian kenapa kok putus? Padahal udah cocok banget tau!” seperti itulah yang ditanyakan. Hal yang sama pun ditanyakan oleh Darma. Tyo pun datang menemui Ria dan menemani serta menghibur Ria agar ia tidak sedih lagi. Begitu pula para sahabatnya yang selalu mencoba menghibur Ria, bahkan teman-teman Ria di kelasnya juga. Setelah beberapa hari berlalu, Ria dan Tri masih sempat berhubungan seperti biasanya. Akan tetapi tidak seperti dulu. Tri kini berubah menjadi cuek. Tak lama kemudian, Ria mendengar kabar bahwa Tri telah menyukai wanita lain. Dan itu sempat membuatnya kaget dan sedih. Sudah banyak kabar yang didengar oleh Ria bahwa Tri sudah dekat dengan wanita lain. Ria hanya dapat menghelakan nafasnya, dan mencoba tetap bersabar. Sebenarnya, semenjak Ria single sudah banyak pria yang mencoba mendekatinya. Namun Ria tetap masih tidak ingin untuk berpacaran kembali. Ria mengaku masih trauma. Itulah yang menjadi alasan Ria dan menjadikan jawaban jika banyak yang menanyakan. Selain karena masih trauma, Ria mengaku bahwa ia masih mengharapkan dan tidak dapat melupakan Tri. “Lo kenapa gak nyari pacar aja, sih biar bisa move on dari Tri? Emang lo mau terus-terusan stuck? Emang lo mau terus-terusan sedih dan ngebiarin lo ngedenger Tri udah punya yang lain?” salah satu teman Ria menanyakan. “Gak dulu deh. Percuma kalo nanti gue punya pacar, tapi gue masih mengharapkan Tri. Nanti kasian pacar gue, mending begini aja dulu jalanin semuanya. Deket sama siapa aja, siapa tau tanpa mesti pacaran gue bisa lupain Tri. Let it flow aja.” jawab Ria. Banyak yang mencoba untuk mendekati Ria, akan tetapi Ria tahu bahwa pria yang mendekatinya adalah playboy sehingga Ria tidak mau. Ria sempat dekat kembali dengan Kolunda, dan hampir sempat memiliki hubungan yang akan berjalan cukup serius. Namun, ada saja halangan bagi mereka berdua yang memisahkan mereka. Waktu pun berjalan, dan mendekati bulan Mei dimana Ria akan bertambah umur. Saat Ria berulang tahun, semua sahabat dan teman-temannya memberikan ucapan kepadanya termasuk Tri. Ria tidak menyangka bahwa Tri masih ingat dengannya. Saat itu adalah hari Selasa, pelajaran terakhir di kelas Ria adalah pelajaran Sejarah dan diajar oleh Pak Edi. Sebelumnya adalah pelajaran Bahasa Indonesia, karena tidak ada guru sehingga Ria pergi makan ke kantin dengan Fayat dan Eli. Mereka diberi tahu bahwa sudah ada Pak Edi di kelasnya. Kemudian mereka cepat-cepat bergegas menuju kelas. Sesampainya di kelas, terlihat dari wajah Pak Edi yang seperti ingin marah karena mengetahui Ria, Fayat, dan Eli baru kembali dari kantin. Pak Edi merasa tidak dihargai karena saat pelajaran beliau, mereka bertiga malah makan di kantin. Pak Edi menanyakan masing-masing nama mereka, saat menanyakan nama Ria, Pak Edi kemudian menjadi marah dan bertanya, “Oh, kamu yang namanya Ria, ya. Kamu yang menjelek-jelekan saya kepada anak IPS kan?!” Ria bingung karena beliau menanyakan seperti itu kepadanya. Ria menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Pak Edi. Ria merasa bahwa ia tidak pernah menjelek-jelekan beliau kepada siapaun. Namun Pak Edi sangat marah hingga nada suaranya menjadi tinggi dan memukul meja membuat yang berada di dalam kelas kaget. Ria pun menangis karena takut dan kaget. Dari luar kelas muncul lah Fayat, Eli, Sisca dan Febri yang membawakan kue ulang tahun kepada Ria. Ria semakin nangis dan menjadi salah tingkah. Teman-teman sekelasnya menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun kepada Ria. Ria kemudian menjadi menangis terharu. Setelah pulang sekolah, Ria memotong kue dan membagikannya kepada teman sekelasnya. Sudah menjadi kebiasaannya pada jaman sekarang, krim dari kue tersebut dipeperkan ke orang-orang. Dan saat itu pun Ria kena oleh salah satu teman sekelasnya. Ria pun mencuci mukanya. Dari kejauhan, salah satu teman sekelas Tri yaitu Akbar memanggil Ria, “Ri! Sini dulu dong sebentar! Ada yang mau ngomong nih!” Ria pun pergi menyamperi Akbar. Kemudian muncul Tri dengan membawa sebuah bungkusan. Tri memberikan bungkusan itu kepada Ria, “Ini buat kamu, Ri. Selamat ulang tahun ya.” sambil berjabat tangan dengan Ria. Teman-teman Tri pun meledekinya, “Cieeeeeeeeeeeeee bolehan.” Saat pulang sekolah, Ria pun langsung beristirahat tidur hingga sore. Setelah maghrib, Ria diberi kejutan lagi oleh sahabat-sahabatnya dengan membawa kue dan menyanyikan lagu untuk Ria. Semua hadir saat itu, dan juga ada Putra yaitu teman Yanti. Setelah meniupkan lilin dan memotong kue, sahabat-sahabatnya menceploskan kata-kata, “Duh, laper nih! Enak nih kayaknya makan ditraktir gitu deh.” Ria pun tertawa dan bergegas mandi. Selesai mandi, Izza bilang bahwa ia tidak dapat ikut sehingga dia ingin pulang saja. Akhirnya Ria memutuskan untuk menteraktir teman-temannya makan esok hari sepulang sekolah. Saat para sahabatnya ingin pulang, Ria disuruh untuk ikut mengantar hingga luar. Ria disuruh untuk foto dengan Putra. Di tangan Putra ternyata terdapat satu telur dan menceplokannya ke kepala Ria. Kemudianlah sahabat-sahabat Ria ikutan dan menyiraminya dengan terigu, kopi serta air. Sungguh menyenangkan, dan merupakan momen yang tak terlupakan oleh Ria.
    Semenjak ulang tahun Ria, Ria menjadi berkomunikasi dengan Putra, teman Yanti. Mereka menjadi dekat. Para sahabatnya mendukung Ria untuk menjalin hubungan Putra. Tetapi tetap, Ria tidak ingin karena dia tetap ingin sendiri. Menurutnya pun, Ria tidak srek dengan Putra sehingga Ria hanya menganggap Putra sebagai teman terbaiknya. Putra sudah sempat menyatakan jujur tentang perasaannya, kemudian Ria juga dan menjelaskan semuanya kepada Putra. Untunglah Putra dapat mengerti. Kini Ria telah menjalani kehidupan sehari-harinya dengan enjoy. Sering kali ia masih suka teringat dengan Tri namun Ria mencoba untuk membuang jauh-jauh soal itu. Waktu kian mendekati dengan Ujian Akhir Semester (UAS) Genap. Pada UAS Ganjil, memang biasanya Ria selalu belajar dan disemangati oleh Tri tapi kini sudah tidak dan Ria mencoba untuk fokus dan tidak memikirkan soal itu. UAS pun berakhir dan datanglah liburan. Seperti biasa, di tahun ajaran baru di setiap sekolah pasti terdapat Masa Bimbingan Siswa (MBS). Tahun lalu diadakan kegiatan tersebut selama satu minggu, di tahun ini hanya diadakan selama 3 hari, dan di hari akhir adalah demo ekskul. Karena ketua POR, Tian sudah lulus sehingga yang sibuk mengurusinya adalah Ria. Ria diperintahkan oleh pembinanya, Pak Bob. Pak Bob juga memerintahkan kepada Yatno, teman Ria. Ria dan Yatno rela sibuk demi ekskul ini. Kemudian memasuki waktunya untuk demo ekskul. Ria yang merupakan wakil dari ekskul futsal serta Yatno dari ekskul basket, dan anggota POR lain yang menjadi perwakilan ekskul mereka mengelilingi dan memasuki tiap kelas. Di tiap kelas mereka memperkenalkan dan menjelaskan tentang ekskul POR. Saat memasuki kelompok Madura dari sudut kejauhan ada seorang adik kelas yang sangat memperhatikan Ria. Namun Ria hanya cuek saja. Setelah selesai, dimulai lah penampilan di lapangan. Pada tahun lalu, Ria menjadi salah satu yang tampil dan diatur tapi kini Ria tidak tampil dan ia yang mengatur semuanya. Demo ekskul pun selesai. Kebetulan saat itu adalah saat mendekati waktu bulan Ramadhan jadi sekolah diliburkan selama satu minggu. Saat kembali bersekolah, biasanya sekolah akan mengadakan buka bersama, karena kebetulan sekolah Ria sedang dibangun sehingga keadaannya tidak memungkinkan menjadikan tidak adanya acara tersebut. Jadi Ria dan teman sekelasnya yang baru di kelas XII ini mengadakan acara sendiri. Kali ini Ria sangat senang karena dapat buka bersama dengan teman-temannya mulai dari temannya saat SMP, temannya saat kelas X, dan temannya saat kelas XI. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya beserta keluarganya. Ria merasakan kelengkapan saat itu tapi tetap Ria merasa sedih karena di bulan Ramadhan tahun ini sang Ayah sudah tiada. Ria sangat merasakan kehilangan sekali. Pada tahun lalu, Ria masih memiliki sang Ayah beserta Tri yang melengkapi hidupnya. Kini, sang Ayah telah pergi begitu juga Tri. Sempat Ria menangis jika mengingatnya, karena orang yang dicintainya sama-sama pergi meninggalkannya. Namun kini Ria telah berhasil sedikit demi sedikit untuk melupakan Tri karena orang-orang di sekitarnya ikut membantunya. Ria sangat berterima kasih kepada mereka. Hal yang paling menyedihkan adalah disaat hari Idul Fitri. Sang Ibu tiba-tiba menangis, karena sang Ibu sangat merindukan suaminya. Terjadi keharuan setelah selesai shalat Ied. Ria, sang Ibu dan sang Kakak saling memeluk satu sama lain. Memang, terdapat hal yang berbeda saat itu. Yaitu, suami dan Ayah tercinta tidak ada saat itu. “Kita sama-sama mendoakan Ayah aja disana ya, Bu. Ibu jangan nangis lagi.” dengan tegasnya meskipun harus menahan tangis sang Kakak menyarankan sang Ibu yang sudah menangis kejar. Semuanya larut dalam kesedihan saat itu. Keluarga besar Ria pun merasakan hal yang sama. Tapi itu sudahlah menjadi takdir Yang Maha Kuasa. Jika sampai sekarang sang Ayah masih diberi umur, Ria merasa kasihan dengan sang Ayah karena harus merasakan sakit yang lebih panjang di dunia ini. Ria selalu mendoakan sang Ayah yang terbaik.
    Liburan lebaran pun berakhir. Tak lama, terdapat event turnamen saat itu. Dan futsal putra-putri beserta basket putra mengikuti event tersebut. Mulailah mereka selalu latihan untuk memberikan yang terbaik kepada tim dan sekolahnya. Kembali Ria dan Yatno diperintahkan untuk mengurusi pendaftaran event tersebut oleh Pak Bob. Ria dan Yatno rela pulang hingga sore. Karena memang sebelumnya, mereka berdua menunggu anak kelas X yang kini harus masuk siang karena sedang ada pembangunan di sekolahnya. Setelah mendaftar, Ria bersama dengan Izza dan Luthfi, menjadi perwakilan dari futsal datang ke sekolah yang mengadakan event tersebut untuk menghadiri technical meeting. Mereka mendapatkan bagan pertandingan yang cukup beruntung. Mereka optimis untuk dapat memenangkan turnamen tersebut. Tapi untuk Yatno, timnya harus berusaha keras agar dapat menang dan masuk ke babak penyisihan selanjutnya karena tim mereka harus melawan tim dari sekolah yang cukup bagus. Tiap hari Senin malam, tim futsal putra dan putri selalu mengadakan latihan di GOR. Semua pemain yang berasal dari kelas X hingga XII hadir untuk latihan baik putra maupun putri. Disitulah Ria bertemu dengan Asep, murid kelas X yang menjadi penjaga gawang atau kiper, Ria merasa kagum dengan Asep saat melihat Asep begitu hebat menjadi kiper. Kebetulan Ria juga menjadi seorang kiper, sehingga Ria berlatih agar dapat menjadi hebat seperti Asep. Pertandingan pertama untuk futsal putra akan segera dimulai, seperti biasa jika sekolah Ria bertanding semua siswa baik kelas X sampai kelas XII datang untuk menyaksikan dan mendukung tim mereka. Asep menjadi tim inti saat itu, meskipun saat babak pertama ia hanya dijadikan pemain cadangan. Saat babak kedua, Asep dimainkan oleh sang pelatih. Karena begitu kagumnya, Ria pun berteriak, “YEAAAAAYYY!!!!! AYO SEMANGAT KIPERRRRRR!!!!” sahabat-sahabat Ria menanggapnya hanya sebagai lelucon biasa, karena mereka tahu Ria begitulah sifatnya, suka ramai sendiri. Akan tetapi, Ria pernah bercerita kepada Fayat bahwa Ria sangat nge-fans dengan Asep, sang kiper. Fayat pun meledeki Ria, kemudian Ani mengikutinya, “Cieeeeee, Ria! Ini beneran kali support-nya.” Ria hanya tertawa dan tersenyum malu-malu. Kemudian Ani memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya, bahwa Ria menyukai Asep. Sehingga sahabat-sahabatnya meledeki Ria. Pertandingan dimenangkan oleh sekolah Ria. Semua supporter berteriak-teriak senang. Saat pertandingan sekolahnya selesai, Ria, dengan sahabat-sahabatnya keluar dan pergi menuju pemain tim futsal putra di belakang sekaligus menemui sang pelatih. Karena kebetulan juga pun sahabat Ria, yaitu Tyo menjadi salah satu pemain inti di tim itu. Disitu pun juga sedang ada Asep. Ani merupakan salah satu sahabat Ria yang sangat iseng, memberitahu Tyo bahwa Ria ingin berkenalan dengan Asep, “Yo! Ria pengen kenalan tuh sama si kiper! Bantuin dong!” “Oh jadi gitu, sekarang Ria mainannya adik kelas ya? Gue panggilin ya.” “Eh, gak gak gak! Bohong tuh! Ani Cuma bercanda tau!” “Sep! sini, Sep! Ada yang mau kenalan.” saat Tyo memanggil Asep, Asep pun pergi menyampar Tyo. Saat tahu, Ria langsung lari pergi malu-malu. “Yeh, si Ria, ya! Malu-malu kucing aja.” ujar Ani. Asep hanya memasang wajah yang bingung dan tertawa. Kemudian Ria dan sahabat-sahabatnya pergi makan kemudian masih membahas soal Asep, “Lo sih, Ri! Pake lari segala! Orang Asepnya udah nyamperin juga. Dia nyariin tau orangnya yang mana.” ujar Ani. “Dih, malu kali gue, Ni.” jawab Ria. Dan sahabat-sahabat Ria meledekinya. Karena saat pertandingan pertama sudah menang, maka tim futsal putra pun akan bertanding lagi. Kali ini Ria sudah diwanti-wanti oleh Ani, “Pokoknya kalau sampe nanti lo kabur lagi, gue gak bakal nolongin lo lagi ya buat kenalan.” Ria hanya diam. Pertandingan pun dimulai, seluruh pendukung sekolah Ria bersorak-sorak ramai begitupun Ria yang selalu berteriak, meneriakan Asep, “YOOOO, KIPER!!!! SEMANGAT SEMANGAT!!!!” seluruh penonton langsung menyoraki Ria, “CIEEEEEEEE!” Ria hanyat tertawa. Seperti pertandingan kemarin, Asep baru dimainkan saat babak kedua. Pertandingan selesai, dan masih dimenangkan oleh sekolah Ria. Semua pendukung bersorak-sorakan kemenangan saat itu. Kemudian para pemain pun masuk ke GOR dan ikut menonton pertandingan selanjutnya. Ria dan Ani pun masih ikut menonton saat itu. Hingga muncul, Ahmad sang kiper utama menujur Ria dan Ani. “Mad! Si Ria mau kenalan nih sama kiper yang itu tuh.” ujar Ani. “Iya? Ya udah gue panggilin ya!” “Sep! sini, Sep! Bentar aja.” “Eh eh, kalian berdua parah lah! Jangan dong, malu-maluin tau!” gumam Ria dengan wajahnya yang memerah. “Ada apa, Mad?” tanya Asep. “Ini, Sep! Ada yang mau kenalan sama lo. Namanya Ria. Sini dong mana tangan lo, Ri. Kenalan! Jabat tangannya!” sambil mengambil tangan Ria, Ahmad pun berhasil membuat mereka berkenalan. “Asep.” “Ria.” itulah kata-kata yang mereka keluarkan. “Cieeee, Ria! Kenalan juga nih ya akhirnya.” ujar Darma dari belakang Ria. Ria hanya tersenyum salah tingkah dan malu-malu. Mereka pun bertukar nomor HP. “Ehem! Akhirnya kenalan juga kan. Cieeee, seneng tuh.” ledek Ani. Dan lagi-lagi Ria hanya tersenyum malu-malu hingga wajahnya merah dan berkeringat. Waktu sudah menjelang malam, kemudian Ria dan Ani pun pulang. Sesampainya di rumah, muncul sebuah SMS di HP Ria. Ria kaget ternyata SMS itu dari Asep. Ria langsung menceritakannya kepada Ani, dan Ani tertawa serta meledeki Ria. Ria pun membalas SMS Asep, dan berbincang-bincang hingga larut malam. Ria merasa nyaman dan nyambung dengan Asep hingga tak terasa saat itu sudah larut malam. Keesokannya, Ria berpikir pasti Asep tidak akan SMS Ria, mungkin hanya akan sekali saat kemarin malam saja. Nyatanya, saat Ria ingin berangkat sekolah, muncul sebuah SMS lagi di HP nya dan itu ternyata dari Asep. Ria sempat kaget namun bercampur senang, saat di sekolah Ria pun menceritakan kepada sahabat-sahabatnya. “Akhirnya! Ria move on juga! Alhamdulillah….” ujar Izza dengan nada meledek. Ria pun hanya tertawa terbahak-bahak mendengar respon dari sahabat-sahabatnya. Setelah beberapa hari, tiba-tiba Asep ingin berbicara serius dengan Ria, “Ri, aku mau jujur sama aku, aku mau ngomong sama kamu.” jantung Ria tiba-tiba menjadi berdetak menjadi lebih kencang, “Mau ngomong apa, Sep? Ngomong aja.” jawab Ria. “Hmm, sejujurnya aku udah suka sama kamu dari dulu. Semenjak kamu menjadi perwakilan ekskul futsal saat demo ekskul itu. Disaat kamu masuk ke kelompok Madura….” Ria langsung berpikir, apakah lelaki yang memperhatikan ia saat itu adalah Asep. “Tapi aku gak tau bagaimana harus kenalan sama kamu, karena kamu adalah seorang kakak kelas. Hingga akhirnya, saat itu Ahmad manggil aku dan kamu mau kenalan sama aku. Jadi pas deh, karena kebetulan aku juga mau kenalan sama kamu.” “Oh gitu ya, hehehehe. Jadi malu.” Ria menjawab dengan ngawur. Tak lama kemudian Asep membalas, “Kamu mau jadi pacar aku?” dan langsung saja membuat Ria diam, bingung, kaget dan tidak tahu harus menjawab apa. Menurut Ria memang hanya Asep yang membuatnya kini merasa bahagia kembali setelah sekian lama Ria terpuruk mengharapkan yang tidak pasti yaitu Tri. Kemudian Ria meminta saran kepada Ani, yang telah mencomblang-kannya, “Ya, kalau emang lo berperasaan yang sama kenapa gak, Ri? Lo mengakui kalau Asep membuat lo kembali seperti dulu lagi. Jangan sampe lo bohongin perasaan lo lagi kayak dulu, hingga membuat lo nyesel. Udah, jawab aja. Gue dukung lo, Ri.” setelah mendapatkan saran itu dari Ani, Ria pun menjawab pertanyaan Asep tersebut, “Iya, aku mau kok, Sep.” Dan kini, Ria sudah menjalin hubungan yang baru dengan Asep. Semua orang memberi selamat kepada Ria karena sudah move on. Semua orang tahu, bahwa Ria sangat susah sekali move on dari Tri. Tapi kini setelah kehadiran Asep, Ria kembali bahagia seperti dulu lagi.



    Photobucket

    (?’?^’?)9

    (?’?^’?)9

    Photobucket

    Because it’s always you..



    Photobucket 1 note

    “Jika tidak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, jagalah apa yang sudah kamu miliki.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Hati yang rusak nggak akan bisa kembali seperti semula.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Sebab sesuatu yang tidak dimulai dengan sungguh-sungguh, memang pantas berakhir karena hal yang tidak sungguh-sungguh pula.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Jika cinta dapat menghilang karena hal-hal remeh dan tidak terlalu penting, sejak awal, itu bukanlah cinta. Mungkin obsesi, mungkin keinginan sementara, mungkin permainan iseng, mungkin yang lain.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Cinta itu hitam dan putih. Ada gelap dan terang. Cinta nggak selamanya penuh keindahan dan kejelasan, tapi juga punya bagian gelap yang selalu bikin kita tersesat. Nggak semua cinta berjalan dan berakhir dengan indah. Banyak yang terperangkap dan terkurung dalam berbagai masalah.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Jatuh cinta itu indah, kalau orang yang kamu cintai tau bahwa kamu cinta dia.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Luka yang besar butuh waktu yang panjang juga.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Cinta selalu memberi kesempatan kedua. Terlebih, jika ia benar-benar berusaha.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Namun, cinta yang berakhir mustahil tak menyisakan luka, sebaik apa pun sebuah akhir itu terjadi.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Bukannya memberi jalan seseorang masuk dan tinggal di dalam hati kita juga berarti menyerahkan sepenuhnya kepadanya untuk merawat atau malah mengobrak-abrik hati.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Emang cinta kenal durasi? Orang yang belum pernah ketemu aja bisa saling suka.”
    @benzbara_

    Photobucket

    “Pengkhianatan memang tak mudah untuk dimaafkan apalagi dilupakan begitu saja. Bahkan, pengkhianatan tak akan pernah bisa dilupakan.”
    @benzbara_

    Photobucket

NEXT